Tampilkan postingan dengan label Hematologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hematologi. Tampilkan semua postingan

Hitung jenis leukosit




Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/µl).
Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%.
Bila pada hitung jenis leukosit, didapatkan eritrosit berinti lebih dari 10 per 100 leukosit, maka jumlah leukosit/µl perlu dikoreksi.

Netrofilia

Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil lebih dari 7000/µl dalam darah tepi. Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan logam berat, gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan darah dan kelainan mieloproliferatif.
Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus hemolyticus dan Diplococcus pneumonine menyebabkan netrofilia yang berat, sedangkan infeksi oleh Salmonella typhosa dan Mycobacterium tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia. Pada anak-anak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada penderita yang lemah, respons terhadap infeksi kurang sehingga sering tidak disertai netrofilia. Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang meradang karena jaringan nekrotik akan melepaskan leukocyte promoting substance sehingga abses yang luas akan menimbulkan netrofilia lebih berat daripada bakteremia yang ringan. Pemberian adrenocorticotrophic hormone (ACTH) pada orang normal akan menimbulkan netrofilia tetapi pada penderita infeksi berat tidak dijumpai netrofilia.
Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut pergeseran ke kiri atau shift to the left.
Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai netrofilia ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada infeksi berat dijumpai netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda. Infeksi tanpa netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai banyak sel muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi atau respons penderita yang kurang.
Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda degenerasi, yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan gelap yang disebut granulasi toksik. Disamping itu dapat dijumpai inti piknotik dan vakuolisasi baik pada inti maupun sitoplasma

Eosinofilia

Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil lebih dari 300/µl darah. Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin yang dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil. Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi parasit, kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.

Basofilia

Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil lebih dari 100/µl darah. Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik. Pada penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria pigmentosa dan kolitis ulserativa juga dapat dijumpai basofilia. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan melepaskan histamin dari granulanya.


Limfositosis
Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit lebih dari 8000/µl pada bayi dan anak-anak serta lebih dari 4000/µl darah pada dewasa. Limfositosis
dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia primer.

Monosit
Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit lebih dari 750/µl pada anak dan lebih dari 800/µl darah pada orang dewasa. Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti leukemia monositik akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit kollagen seperti lupus eritematosus sistemik dan reumatoid artritis; serta pada beberapa penyakit infeksi baik oleh bakteri, virus, protozoa maupun jamur.
Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik pada tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif, perbandingan antara jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama dengan 1/3, tetapi pada tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan tersebut lebih besar dari 1/3.
Netropenia
Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari 2500/µl darah. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan pembentukan netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.
    Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang memendek karena drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja sebagai hapten dan merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit. Gangguan pembentukan dapat terjadi akibat radiasi atau obat-obatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan fenotiasin; desakan dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak diketahui sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.

Limfopenia
Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari 1000/µl dan pada anak-anak kurang dari 3000/µl darah. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun seperti pada penyakit Hodgkin, sarkoidosis; penghancuran yang meningkat yang dapat disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis; dan kehilangan yang meningkat seperti pada thoracic duct drainage dan protein losing enteropathy.

Eosinopenia dan lain-lain
Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari 50/µl darah. Hal ini dapat dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi koreks adrenal dan pengobatan dengan kortikosteroid.

Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam klinik. Pada hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak dijumlah basofil maupun eosinofil.

Hal-Hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan hemostasis

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan hemostasis 

1.      Antikoagulan
       Untuk pemeriksaan koagulasi antikoagulan yang dipakai adalah natrium sitrat 0,109 M dengan perbandingan 9 bagian darah dan 1 bagian natrium sitrat.Untuk hitung trombosit antikoagulan yang dipakai adalah Na2EDTA.Jika dipakai darah kapiler, maka tetes darah pertama harus dibuang.

2.      Penampung
       Untuk mencegah terjadinya aktivasi factor pembekuan, dianjurkan memakai penampung dari plastic atau gelas yang telah dilapisi silicon.

3.      Semprit dan Jarum
       Dianjurkan memakai semprit plastic dan jarum yang cukup besar. Paling kecil nomor 20.

4.      Cara pengambilan darah
       Pada waktu pengambilan darah, harus dihindari masuknya tromboplastin jaringan. Yang dianjurkan adalah pengambilan darah dengan memakai 2 semprit. Setelah darah dihisap dengan semprit pertama, tanpa mencabut jarum, semprit pertama dilepas lalu pasang semprit kedua. Darah semprit pertama tidak dipakai untuk pemeriksaan koagulasi, sebab dikhawatirkan sudah tercemar oleh tromboplastin jaringan.

5.      Kontrol
       Setiap kali mengerjakan pemeriksaan koagulasi, sebaiknya diperiksa juga satu kontrol normal dan satu kontrol abnormal. Selain tersedia secara komersial, kontrol normal juga dapat dibuat sendiri dengan mencampurkan plasma yang berasal dari 10 sampai 20 orang sehat, yang terdiri atas pria dan wanita yang tidak memakai kontrasepsi hormonal. Plasma yang dipakai sebagai kontrol tidak boleh ikterik, lipemik, maupun hemolisis.

6.      Penyimpangan dan pegiriman bahan
       Pemeriksaan koagulasi sebaiknya segara dikerjakan, karena beberapa faktor pembekuan bersifat labil. Bila tidak dapat diselesaikan dalam waktu 4 jam setelah pengambilan darah, plasma disimpan dalam tempat plastik tertutup dan dalam keadaan beku. Untuk pemeriksaan APTT dan assay faktor VIII atau IX, bahan yang dikirim adalah plasma citrat dalam tempat plastik bertutup dan diberi pendingin, tetapi untuk PT dan agregasi trombosit jangan diberi pendingin karena suhu dingin dapat mengaktifkan F VII tetapi menghambat agregasi trombosit.


Pemeriksaan faal hemosatasis

Pemeriksaan faal hemosatasis adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui faal hemostatis serta kelainan yang terjadi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari riwayat perdarahan abnormal, mencari kelainan yang mengganggu faal hemostatis, riwayat pemakaian obat, riwayat perdarahan dalam keluarga. Pemeriksaan faal hemostatis sangat penting dalam mendiagnosis diatesis hemoragik. Pemeriksaan ini terdiri atas:
A.    Tes penyaring meliputi :
1.      Percobaan pembendungan
2.      Masa perdarahan
3.      Hitung trombosit
4.      Masa protombin plasma (Prothrombin Time, PT)
5.      Masa tromboplastin partial teraktivasi (Activated partial thromboplastin time, APTT)
6.      Masa trombin (Thrombin time, TT)
B.     Tes khusus meliputi :
1.      Tes faal trombosit
2.      Tes Ristocetin
3.      Pengukuran faktor spesifik (faktor pembekuan)
4.      Pengukuran alpha-2 antiplasmin

 Tes penyaring meliputi :
1.      Percobaan Pembendungan
       Percobaan ini bermaksud menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan pembendungan pada vena, sehingga tekanan darah di dalam kapiler meningkat. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes ke dalam jaringan sekitarnya sehingga nampak titik-titik merah kecil pada permukaan kulit, titk itu disebut dengan petekia.
       Untuk melakukan percobaan ini mula-mula dilakukan pembendungan pada lengan atas dengan memasang tensimeter pada pertengahan antara tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Tekanan itu dipertahankan selama 10 menit. Jika percobaan ini dilakukan sebagai lanjutan masa perdarahan, cukup dipertahankan selama 5 menit. Setelah waktunya tercapai  bendungan dilepaskan dan ditunggu sampai tanda-tanda stasis darah lenyap. Kemudian diperiksa adanya petekia di kulit lengan bawah bagian voler, pada daerah garis tengah 5 cm kira-kira 4 cm dari lipat siku.
       Pada orang normal tidak atau tidak sama sekali didapatkan petekia. Hasil positif bila terdapat lebih dari 10 petekia. Seandainya di daerah tersebut tidak ada petekia tetapi jauh di distal ada, hasil percobaan ini positif juga.
       Jika pada waktu dilakukan pemeriksaan masa perdarahan sudah terjadi petekie, berarti percobaan pembendungan sudah positif hasilnya dan tidak perlu dilakukan sendiri. Pada penderita yang telah terjadi purpura secara spontan, percobaan ini juga tidak perlu dilakukan.
       Walaupun percobaan pembendungan ini dimaksudkan unntuk mmengukur ketahanan kapiler, hasil tes ini ikut dipengaruhi juga oleh jumlah dan fungsi trombosit. Trombositopenia sendiri dapat menyebabkan percobaan ini barhasil positif.

2.      Masa Perdarahan
       Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai kemampuan vascular dan trombosit untuk menghentikan perdarahan.
     Prinsip pemeriksaan ini adalah menentukan lamanya perdarahan pada luka yang mengenai kapiler. Terdapat 2 macam cara yaitu cara Ivy dan Duke.
     Pada cara Ivy, mula-mula dipasang tensimeter dengan tekanan 40 mmHg pada lengan atas. Setalah dilakukan tindakan antisepsis dengan kapas alkohol, kulit lengan bawah bagian voler diregangkan lalu dilakukan tusukan denagn lancet sedalam 3mm. Stopwatch dijalankan waktu darah keluar. Setiap 30 detik darah dihisap dengan kertas saring. Setelah darah tidak keluar lagi, stopwatch dihentikan. Nilai normal berkisar antara 1-6 menit.
     Pada cara duke, mula-mula dilakukan tindakan antisepsis pada anak daun telinga. Dengan lancet, dilakukan tususkan pada tepi anak daun telinga. Stopwatch dijalankan waktu darah keluar. Setiap 30 detik, darah dapat dihisap dengan kertas saring. Setelah darah tidak keluar lagi, stopwatch dihentikan. Nilai normal berkiasar antara 1-3 menit. Cara Duke sebaiknya dipakai untuk bayi dan anak kecil dimana sukar atau tidak mungkin dilakukan pembendungan.
        Pemeriksaan masa perdarahan merupakan suatu tes yang kurang memuaskan karena tidak dapat dilakukan standarisasi tusukan baik mengenai dalamnya, panjangnya, lokalisasinya maupun arahnya sehingga korelasi antara hasil tes ini dan keadaan klinik tidak begitu baik. Perbedaan suhu kulit juga dapat mempengaruhi hasil tes ini.
       Pada pemeriksaan ini tusukan harus cukup dalam, sehingga salah satu bercak darah pada kertas saring mempunyai diameter 5 mm atau lebih. Masa perdarahan yang kurang dari 1 menit juga disebabkan tusukan yang kurang dalam. Dalam hal seperti ini, percobaan dianggap batal dan perlu diulang.
Hasil pemeriksaan menurut cara Ivy lebih dapat dipercaya daripada cara Duke, karena pada cara Duke tidak dilakukan pembendungan sehingga mekanisme hemostatis kurang dapat dinilai. Apabila pada cara Ivy perdarahan berlangsung lebih dari 10 menit dan hal ini diduga karena tertusuknya vena, perlu dilakukan pemeriksaan ulang pada lengan yang lain. Kalau hasilnya tetap lebih dari 10 menit, hal ini membuktikan adanya suatu kelainan dalam mekanisme hemostatis. Tindakan selanjutnya adalah mencari letak kelainan hemostatis dengan mengerjakan pemeriksaan-pemeriksaan lain.




Hemostasis

Hemostasis adalah mekanisme untuk menghentikan dan mencegah perdarahan. Bilamana terdapat luka pada pembuluh darah, segara akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah sehingga aliran darah ke pembuluh darah yang terluka berkurang. Kemudian trombosit akan berkumpul dan melekat pada bagian pembuluh darah yang terluka untuk membentuk sumbat trombosit. Faktor pembekuan darah yang diaktifkan akan membentuk benang-benang fibrin yang akan membuat sumbat trombosit menjadi non permeabel sehingga perdarahan dapat dihentikan.
       Jadi dalam proses hemosatasis terjadi 3 reaksi yaitu reaksi vascular berupa vasokontriksi pembuluh darah, reaksi selular yaitu pembentukan sumbat trombosit, dan reaksi biokimiawi yaitu pembentukan fibrin. Faktor-faktor yang memegang peranan dalam proses hemostasis adalah pembuluh darah, trombosit, dan faktor pembekuan darah. Selain itu faktor lain yang juga mempengaruhi hemostasis adalah faktor ekstravascular, yaitu jaringan ikat disekitar pembuluh darah dan keadaan otot.
       Pedarahan mungkin diakibatkan oleh kelainan pembuluh darah, trombosit, ataupun sistem pembekuan darah. Bila gejala perdarahan merupakan kalainan bawaan, hampir selalu penyebabnya adalah salah satu dari ketiga faktor tersebut diatas kecuali penyakit Von Willebrand. Sedangkan pada kelainan perdarahan yang didapat, penyebabnya mungkin bersifat multipel. Oleh karena itu pemeriksaan penyaring hemostasis harus meliputi pemeriksaan vasculer, treombosit, dan koagulasi.
       Biasanya pemeriksaan hemostasis dilakukan sebelum operasi. Beberapa klinisi membutuhkan pemerikasaan hemostasis untuk semua penderita pre operasi, tetapi ada juga membatasi hanya pada penderita dengan gangguan hemostasis. Yang paling penting adalah anamnesis riwayat perdarahan. Walaupun hasil pemeriksaan penyaring normal, pemeriksaan hemostasis yang lengkap perlu dikerjakan jika ada riwayat perdarahan.


Pembuatan sediaan apusan darah

Sediaan apus darah dengan pengecatan giemsa digunakan untuk pemeriksaan seperti:

A. Pemeriksaana dengan Perbesaran kecil (obyektif 10x)

-Penilaian kualitas hapusan darah.

-Penaksiran jumlah leukosit dan eritrosit, penaksiran hitung jenis(diferensial) leukosit dan pemeriksaan sel-sel yan gtidak normal.

B. Pemeriksaan dengan minyak Imersi (Obyektif 100x)

-Eritrosit : Penaksiran jumlah dan morfologi.

-Leukosit: Perhitungan differensial dan dicari apa apa ada kelainan morfologi.

-Trombosit : Perhitungan jumlah dan kelainan morfologi.

-Sel-sel abnormal.

Alat

-Kaca objek (Bersih, bebas debu dan lemak)

*Untuk menggeser darah bagian pendek kaca objek harus rata sekali.

-Pipet Pasteur (Digunakan bila sampel darah vena)

Reagen

-Cat Giemza

-Buffer phospat (pH 6,4)

-Methanol

Bahan

-Darah kapiler atau darah Vena berantikoagulan heparin/EDTA

Cara Kerja

A.Pembuatan Sediaan Apus

1. Teteskan 1 tetes kecil darah ke kaca objek dengan garis tengak tidak lebih dari 2 mm (Langsung dari jari pasien bila yang di gunakan darah kapiler atau menggunakan pipet Pasteur bila menggunakan darah yang telah dicampur antikoagulan).

2. Dengan tangan kanan diletakakn kaca objek lain(penggeser darah) disebelah kiri tetes darah tadi.

3. Gerakkan kekanan sampai mengenai tetes darah.

4.Tunggu sampai darah menyebar pada sisi kaca penggeser. Tunggu sampai darah mencapai titik kira-kira ½ cm dari sudut kaca penggeser.

5. Segeralah geser ke kiri sambil memegang miring dengan sudut 30-450. Jangan menekan kaca penggeser.

6. Biarkan kering diudara

7.Tulis nama pasien. Lanjutkan ke pengecatan.

B.Pengecatan dengan Giemza

1. Cat Giemza diencerkan dengan buffer dengan perbandingan 1 bagian cat: 4 bagian buffer.

2. Sediaan di letakkan di rak tempat pengcatan

3. Genangi sediaan dengan methanol. Biarkan selama 5 menit atau lebih.

4. Buanglah larutan methanol dari kaca

5. Biarkan kering diudara

6. Genangi dengan cat giemsa yang sudah diencerkan, biarkan selama 20 menit.

7. Bilas dengan air suling

8. Letakkan sediaan vertikal dan biarkan mengering pada udara.

Hal-hal yang mempengaruhi hasil dari sediaan apus

-Kondisi kaca objek

Kaca objek harus: Kering, bersih dan bebas dari lemak dan sisi terpendek kaca objek untuk menggeser darah harus rata.

-Kemiringan kaca objek penggeser darah dan kecepatan menggeser mempengeruhi ketebalan sediaan.

Semakin kecil sudut kaca objek penggeser atau semakin lambat menggeser maka hasil sediaan semakin tipis.

Ciri-ciri sediaan apusan yang baik

1. Sediaan tidak melebar sampai tepi kaca obje (Panjangnya 1/2-2/3 kaca objek).

2. Pada sediaan harus ada bagian yang cukup tipis untuk diperiksa. Pada bagian itu eritrosit tidak menumpuk dan tidak menyusun gumpalan rouleaux.

3. Pinggir sediaan harus rata tidak boleh ada bergaris-garis atau berlobang-lobang.

4. Ujung sediaan tidak boleh seperti bendera sobek

5. Penyebaran leukosit tidak boleh buruk, leuksit tidak boleh menumpuk pada pinggir atau tepi sediaan.

Hal yang Perlu Diperhatikan pada Pengecatan:

1.Darah harus benar-benar kering pada saat digenangi dengan methanol(fiksasi)

2.Sebelum di genangi giemsa sediaan harus benar-bener kering( dari methanol)





Pemeriksaan trombosit

Trombosit adalah jenis sel darah yang berfungsi utama dalam proses pembekuan darah (Hemostasis). Menurut hipotesis dari J.W Wright (1986) trombosit merupakan bagian dari sitoplasma megakariosit. Teori tersebut didukung oleh beberapa hasil observasi yang disimpulkan:

-Trombosit dan megakariosit pada fetus ditemukan bersamaan.

-Pada percobaan edukasi trombositosis memperlihatkan adanya peningkatan mergakariosit.

-Ada persamaan sitokiimia antigenik antara trombosit dan megakariosit.

-Pemberian radioisotope dalam megakariosit ternyata kemudian dijumpai juga pada trombosit.

-Observasi langsung yang memperlihatkan troombosit dihasilkan oleh megakariosit.

Pemeriksaan Laboratorium Hitung Jumlah Trombosit (Antal Trombosit) Darah

Metode :

Direct counting dengan bilik hitung

Prinsip :

Darah diencerkan dengan Ammonium oxalate 1 % maka sel-sel selain trombosit dan eritrosit dilisiskan dan darah menjadi lebih encer sehingga trombosit lebih mudah dihitung. Jumlah trombosit dihitung dalam bilik hitung di bawah mikroskop dengan perbesaran sedang.

Reagensia :

-Larutan Amonium Oksalat 1% (Bisa juga digunakan Rees Ecker)

Alat-alat :

1. Tabung reaksi

2. Pipet 20 µl (adjusted), 2000 µl

3. Bilik hitung Improved Neubauer

4. Cawan Petri

5. Mikroskop

6. Counter

Spesimen : Darah EDTA

Cara Kerja :

1. Dipipetkan 2000 µl reagen ammonium oxalat 1% dan masukkan dalam tabung reaksi

2. Ditambahkan ke dalam tabung 20 µl specimen darah, campur hingga homogen

3. Cairan tersebut (reagen+darah) dipipet dengan pipet tetes, kemudian sentuhkan ujung pipet itu dengan sudut 300 pada permukaan kamar hitung dan menyinggung pinggir kaca penutup. Biarkan kamar hitung terisi cairan dengan daya kapilaritasnya.

4. Letakkan kamar hitung kedalam cawan petri yang didalamnya ada kertas tissue yang sudah dibasahi, inkubasi selama 15 menit.

5. Periksa dibawah mikroskop lensa obyektif 40X

6. Hitung trombosit. Perhitungan dilakukan dalam kotak eritrosit yaitu dalam 10 kotak sedang.

Perhitungan :

Jumlah Trombosit = N/V x P

N= Jumlah Sel

V=Volum bilik hitung = 0.04 mm3

P= Pengenceran = 101 x

Nilai Normal

Jumlah Trombosit normal adalah 150.000 – 400.000 sel/mm3 darah

Interpretasi Hasil

1.Trombositopeni : Trombositopenia adalah istilah keadaan dimana jumlah trombosit dibawah jumlah normal. Penurunan sampai dibawah 10.000 sel/mm3 darah berpotensi untuk terjadinya pendarahan dan hambatan pembekuan darah. Penyebab trombositopenia:

-Penurunan masa hidup, sekuestrasi/pemecahan abnormal : Terjadi pada Hopersplenisme,Trombopoetik Trombositopenia Pupura,Uremik Hemolitik, DIC, Sepsis,Trombositopenia Imun

-Penurunan Produksi : Terjadi pada Mieloptisis, kelainan-kelainan sumsum tulang primer, infeksi, pengaruh obat-obatan tertentu.

-Produksi yang tidak efektif : Terjadi pada proses ,megaloblastik

2.Trombositosis : Trombositopenia adalah istilah keadaan dimana jumlah trombosit diatas jumlah normal. Penyebab lazim trombositosis :

-Kelainan-kelainan Mieloproliferastif:

Terjadi pada Polisitemia vera, myeloid agranulosit, leukemia granulositik kronik, (Trombositopenia primer)

-Trombositosis sekunder:

Dapat disebabkan oleh peradangan, keganasan, penyakit hodgin, perdarahan akut, pasca splenoktomi,reboun dari defisiendi besi yang parah.



TROMBOSIT

TROMBOSIT merupakan komponen tubuh kita yang mengalir bersama dengan sel darah merah dan putih. Trombosit memiliki fungsi utama membekukan darah sehingga tidak banyak darah yang terbuang percuma saat terjadi pendarahan.

Namun ternyata trombosit juga memiliki fungsi lain.

Newscientist mengabarkan bahwa Dirk Busch dari University of Munich, Jerman mengungkapkan bahwa trombosit juga berfungsi untuk mendorong respon daya tahan tubuh. Dengan kata lain, trombosit juga berfungsi untuk memperkuat daya tahan tubuh.

Pada saat terjadi luka, maka trombosit berkumpul pada luka dan membeku sehingga tertutup lukanya. Kemudian, trombosit tersebut mengarahkan bakteri ke limpa. Selanjutnya, bakteri tersebut ‘dikepung’ oleh sel-sel dendritik yang berfungsi sebagai sel daya tahan tubuh. Maka respon daya tahan tubuh itulah yang menghabisi bakteri!..

Dari penemuannya ini, Busch berharap bisa dapat mendorong trombosit untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Trombosit Turun Tak Selalu Demam Berdarah

 Selain demam berdarah, ada beberapa penyakit lain yang ditandai oleh


penurunan kadar trombosit. Apa sajakah itu? Pada mulanya, Desi (empat tahun)


memang menderita demam. Ketika diperiksa lebih jauh, kadar trombositnya


ternyata turun sampai 30 ribu/mm3. Dokter pun mendiagnosis Desi mengidap


demam berdarah. Setelah delapan hari, suhu tubuh yang tadinya mencapai 39


derajat Celsius berangsur turun. Heni (30 tahun), sang ibu, tentu saja lega.


Tapi ia mendeteksi keanehan. Pasalnya, pemeriksaan ulang menunjukkan, trombosit Desi anjlok, hingga tinggal 9.000/mm3. ”Saya sampai kaget, karena tidak demam lagi, saya pikir


dia sudah sembuh dari demam berdarah (DB),” kata Heni. Ternyata rendahnya


kadar trombosit dalam darah Desi memang bukan karena DB. Tapi karena tubuh


menghasilkan antibodi yang menyerang trombosit. ”Ternyata anak saya


menderita ITP (Immunologic Thrombocytopenia Purpura), bukan DB. Syukur


Alhamdulillah, setelah diberi obat oleh dokter, si kecil kini sudah sehat, ‘


jelas Heni lega.


Penurunan trombosit hingga di bawah batas normal memang kerap diidentikkan


dengan demam berdarah, khususnya di kalangan awam. Padahal tidak selamanya


demikian. Dalam keadaan normal, trombosit dalam darah mencapai 150 ribu-450


ribu/mm3. Dalam keadaan tidak normal, trombosit yang berperan dalam


pembekuan darah ini bisa turun. Keadaan ini disebut dengan trombositopenia,


yakni trombosit berada dalam keadaan rendah. Demam berdarah hanyalah salah


satu penyakit yang ditandai oleh turunnya kadar trombosit.


Menurut Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM, ahli hematologi dari Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/RS Cipto Mangunkusumo (RSCM),


trombosit rendah bisa disebabkan oleh bermacam hal. Tapi secara garis besar,


penurunan kadar trombosit disebabkan oleh dua hal yaitu kerusakan trombosit


di peredaran darah, atau kurangnya produksi trombosit di sumsum tulang.


Kerusakan trombosit


Demam berdarah merupakan jenis kerusakan trombosit yang populer di


masyarakat. Menurut kepala divisi Hematologi-Onkologi Medik Bagian Penyakit


Dalam FKUI/RSCM ini, penyebab kerusakan trombosit dalam DB adalah infeksi.


Selain demam berdarah, infeksi yang juga mengurangi trombosit adalah tifus.


Kerusakan trombosit juga bisa terjadi pada penyakit ITP. Ini merupakan


penyakit auto-imun di mana zat anti yang dibentuk tubuh malah menyerang


trombosit.


”Melalui mekanisme imunologi tadi, trombosit menjadi berkurang,” jelas


Zubairi. Pada ITP, gejalanya bisa berupa bercak-bercak perdarahan di kulit.


Sementara pada DB, penderita mengalami demam dan penurunan trombosit tapi


berangsur normal dalam delapan hari. ”Jika (trombosit rendah) lebih dari


delapan hari, kita harus pikirkan kemungkinan yang lain. Salah satunya


adalah ITP,” jelas hematolog yang juga dikenal sebagai salah satu dari


sedikit pakar AIDS di Indonesia ini. ITP seringkali menyerang wanita usia


reproduksi, yakni di bawah 35 tahun.


Tapi bukan berarti, ITP tak bisa menyerang kelompok usia lanjut. Hanya saja,


kasus ITP pada kelompok usia lanjut, terbilang jarang. ”Seperti penyakit


lupus, ITP lebih sering ditemui pada wanita, laki-laki hanya sekitar dua


persen,” kata Zubairi. Penurunan kadar trombosit juga bisa ditemui dalam


kasus DIC (Disseminated Intravascular Coagulation). Biasanya, ini terjadi


pada pasien dengan penyakit berat. ”Seperti pasien dengan sirosis hati,


shock, infeksi kuman apapun dalam darah yang berat sekali, serta penyakit


lupus,” lanjutnya. Trombosit yang rendah bisa juga dikarenakan produksi


yang kurang.


Penyakitnya bisa berupa anemia aplastik. Anemia aplastik terjadi jika sel


yang memproduksi butir darah merah yang terletak di sumsum tulang, tidak


dapat menjalankan tugasnya. ”Pada anemia aplastik, trombosit yang rendah


juga disertai leukosit yang rendah sehingga sumsum tulangnya kosong,” jelas


Zubairi. Selain anemia aplastik, trombosit yang rendah juga kerap ditemui


pada penderita penyakit leukemia. Sering juga ditemui pada penderita


penyakit mielofibrosis. Menurut Zubairi, pada penyakit ini keadaan limfa dan


liver membesar.


Sebenarnya, sewaktu kita lahir, trombosit diproduksi oleh limfa dan liver.


Seiring pertambahan usia, fungsi ini kemudian dijalankan oleh sumsum tulang.


Karena muncul penyakit mielofibrosis, sumsum tulang tidak berfungsi sehingga


limfa dan liver kembali bekerja dan membesar. Untuk mengetahui penyakit mana


yang diderita, perlu dilakukan tes. ”Tidak bisa karena trombosit rendah


langsung dikatakan ITP,” ujar Zubairi. Menurutnya, dalam prinsip kedokteran


semakin sedikit data maka akan semakin banyak kemungkinan.


Pengobatan


Pengobatan setiap penyakit berbeda. Pada penderita ITP, karena ada zat yang


menyerang trombosit, tidak dilakukan transfusi trombosit. Pada ITP,


transfusi trombosit justru akan merangsang zat anti untuk berproduksi. Jadi,


pengobatan utamanya adalah dengan menghilangkan mekanisme auto-imun tadi. ‘


Produksi antibodi ditekan dengan obat yang bersifat kortikosteroid seperti


prednison,” tambah kepala Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah


Indonesia (PHTDI) ini. Jika tidak mempan dengan prednison, biasanya


dilakukan operasi kecil untuk membuang limfa.


Angka kematian akibat trombosit rendah cenderung kecil. Seperti demam


berdarah, angka kematian pada orang dewasa di bawah 10 persen, dan sedikit


lebih besar pada bayi dan anak-anak. ”Kecuali pada anemia aplastik yang


berat dan leukemia”. ITP sendiri jarang menyebabkan kematian. ”Kecuali


pada saat trombosit rendah, pasien terpeleset dan jatuh sehingga terjadi


perdarahan di otak,” Zubairi memberikan contoh. Sampai batas berapa


seseorang bisa bertahan dengan trombosit rendah? ”Tergantung,” jawabnya.


Pada leukemia dan anemia aplastik, pasien dengan trombosit 20 ribu/mm3 sudah


berdarah-darah.


Sedangkan pada DB, hanya berupa bintik-bintik. ”Pada penderita ITP, meski


trombositnya mencapai 15 ribu hingga 10 ribu, tidak ada perdarahan sama


sekali, apalagi jika diberikan pengobatan”. Sedangkan penderita DIC bisa


berdarah pada tempat infus hingga gusi. Menurut Zubairi, selain melihat


jumlah trombosit, dokter juga akan melihat fungsinya, yakni masa perdarahan


(bleeding time) yang normalnya mencapai 1-4 menit.


Dari sisi jumlah, ada beberapa titik penting yakni 0, 20 ribu, 40 ribu, 100


ribu, dan 150 ribu. Untuk penderita DB misalnya, jika trombositnya sudah di


bawah 100 ribu/mm3 sebaiknya diopname. Biasanya diberikan infus. Perlukah


transfusi trombosit? Tidak perlu karena trombosit akan naik sendiri, kecuali


jika trombosit sudah di bawah 20 ribu/mm3 dan terjadi perdarahan. Pemberian


transfusi juga dilakukan dengan melihat masa perdarahan. ”Jika sudah lebih


dari 10 menit, misalnya, berikan transfusi trombosit”. Sedangkan pada


anemia aplastik dan leukemia, karena seringkali menyebabkan perdarahan, maka


transfusi trombosit harus sering diberikan. Tapi ingat, transfusi trombosit


sebaiknya diambil dari donor tunggal


Tes Sel Darah Putih Sel darah putih (disebut juga leukosit)

Tes Sel Darah Putih  Sel darah putih (disebut juga leukosit) membantu melawan infeksi dalam tubuh kita.  Hitung Sel Darah Putih (white blood cell count/WBC) adalah jumlah total leukosit. Leukosit tinggi (hitung sel darah putih yang tinggi) umumnya berarti tubuh kita sedang melawan infeksi. Leukosit rendah artinya ada masalah dengan sumsum tulang. Leukosit rendah, yang disebut leukopenia atau sitopenia, berarti tubuh kita kurang mampu melawan infeksi.  Hitung Jenis (differential) menghitung lima jenis sel darah putih: neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil dan basofil.

Hasil masing-masing dilaporkan sebagai persentase jumlah leukosit. Persentase ini dikalikan leukosit untuk mendapatkan hitung ‘mutlak’. Contohnya, dengan limfosit 30% dan leukosit 10.000, limfosit mutlak adalah 30% dari 10.000 atau 3.000.

Neutrofil berfungsi melawan infeksi bakteri. Biasa jumlahnya 55-70% jumlah leukosit. Jika neutrofil kita rendah (disebut neutropenia), kita lebih mudah terkena infeksi bakteri. Penyakit HIV lanjut dapat menyebabkan neutropenia. Begitu juga, beberapa jenis obat yang dipakai oleh Odha (misalnya gansiklovir untuk mengatasi virus sitomegalo.

Ada dua jenis utama limfosit: sel-T yang menyerang dan membunuh kuman, serta membantu mengatur sistem kekebalan tubuh; dan sel-B yang membuat antibodi, protein khusus yang menyerang kuman.

Jumlah limfosit umumnya 20-40% leukosit. Salah satu jenis sel-T adalah sel CD4, yang tertular dan dibunuh oleh HIV . Hitung darah lengkap tidak termasuk tes CD4. Tes CD4 ini harus diminta sebagai tambahan. Hasil hitung darah lengkap tetap dibutuhkan untuk menghitung jumlah CD4, sehingga dua tes ini umumnya dilakukan sekaligus.  Monosit atau makrofag mencakup 2-8% leukosit.

Sel ini melawan infeksi dengan ‘memakan’ kuman dan memberi tahu sistem kekebalan tubuh mengenai kuman apa yang ditemukan. Monosit beredar dalam darah. Monosit yang berada di berbagai jaringan tubuh disebut makrofag. Jumlah monosit yang tinggi umumnya menunjukkan adanya infeksi bakteri.

Eosinofil biasanya 1-3% leukosit. Sel ini terlibat dengan alergi dan tanggapan terhadap parasit. Kadang kala penyakit HIV dapat menyebabkan jumlah eosinofil yang tinggi. Jumlah yang tinggi, terutama jika kita diare, kentut, atau perut kembung, mungkin menandai keberadaan parasit.

Fungsi basofil tidak jelas dipahami, namun sel ini terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang, misalnya asma atau alergi kulit. Sel ini jumlahnya kurang dari 1% leukosit.

Persentase limfosit mengukur lima jenis sel darah putih: neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil dan basofil, dalam bentuk persentase leukosit. Untuk memperoleh limfosit total, nilai ini dikalikan dengan leukosit. Misalnya, bila limfosit 30,2% dan leukosit 8.770, limfosit totalnya adalah 0,302 x 8.770 = 2.648.  Laju Endap Darah (LED) atau Sed Rate mengukur kecepatan sel darah merah mengendap dalam tabung darah.

LED yang tinggi menunjukkan adanya radang. Namun LED tidak menunjukkan apakah itu radang jangka lama, misalnya artritis, atau disebabkan oleh tubuh yang terserang infeksi.




Eritrosit (Sel Darah Merah)

Sel darah merah, yang juga disebut sebagai eritrosit, bertugas mengangkut oksigen dari paru ke semua sel di seluruh tubuh. Fungsi ini dapat diukur melalui tiga macam tes. Hitung Sel Darah Merah (red blood cell count/RBC) yang menghitung jumlah total sel darah merah. Hemoglobin (Hb) yaitu protein dalam sel darah merah bertugas mengangkut oksigen dari paru ke bagian tubuh lain Hematokrit (Ht atau HCT) mengukur persentase sel darah merah dalam seluruh volume darah.

Orang yang tinggal di dataran tinggi umumnya mempunyai lebih banyak sel darah merah. Ini merupakan upaya tubuh mengatasi kekurangan oksigen.

Eritrosit, Hb dan Ht yang sangat rendah menunjukkan adanya anemia, yaitu sel tidak mendapat cukup oksigen untuk berfungsi secara normal. Jika kita anemia, kita sering merasa lelah dan terlihat pucat. Lihat LI 551 mengenai kelelahan dan LI 552 mengenai anemia.

Volume Eritrosit Rata-Rata (VER) atau mean corpuscular volume (MCV) mengukur besar rata-rata sel darah merah. VER yang kecil berarti ukuran sel darah merahnya lebih kecil dari ukuran normal. Biasanya hal ini disebabkan oleh kekurangan zat besi atau penyakit kronis. VER yang besar dapat disebabkan oleh obat antiretroviral (ARV), terutama AZT dan d4T. Keadaan ini tidak berbahaya. Namun VER yang besar dapat menunjukkan adanya anemia megaloblastik, dengan sel darah merahnya besar dan berwarna muda. Biasanya hal ini disebabkan oleh kekurangan asam folat.

Sementara VER mengukur ukuran rata-rata sel darah merah, Red Blood Cell Distribution Width (RDW) mengukur kisaran ukuran sel darah merah. Hasil tes ini dapat membantu mendiagnosis jenis anemia dan kekurangan beberapa vitamin.

Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (HER) atau mean corpuscular hemoglobin (MCH) dan Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (KHER) atau mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC atau CHCM) masing-masing mengukur jumlah dan kepekatan hemoglobin. HER dihitung dengan membagi hemoglobin total dengan jumlah sel darah merah total.

Trombosit atau platelet berfungsi membantu menghentikan perdarahan dengan membentuk gumpalan dan keropeng. Jika trombosit kita kurang, kita mudah mengalami perdarahan atau memar. Orang terinfeksi HIV kadang trombositnya rendah (disebut trombositopenia). ARV dapat mengatasi keadaan ini. Jumlah trombosit hampir tidak pernah menjadi begitu tinggi sehingga mempengaruhi kesehatan.



Darah

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.

Pada serangga, darah (atau lebih dikenal sebagai hemolimfe) tidak terlibat dalam peredaran oksigen. Oksigen pada serangga diedarkan melalui sistem trakea berupa saluran-saluran yang menyalurkan udara secara langsung ke jaringan tubuh. Darah serangga mengangkut zat ke jaringan tubuh dan menyingkirkan bahan sisa metabolisme.

Pada hewan lain, fungsi utama darah ialah mengangkut oksigen dari paru-paru atau insang ke jaringan tubuh. Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen. Pada sebagian hewan tak bertulang belakang atau invertebrata yang berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang atau vertebrata. Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga, dan digunakan oleh hewan crustaceae. Cumi-cumi menggunakan vanadium kromagen (berwarna hijau muda, biru, atau kuning oranye).

a. Sampel darah manusia

Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.

Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen.


Manusia memiliki sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah mengalir dalam pembuluh darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa karbon dioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis, lalu dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh oleh saluran pembuluh darah aorta. Darah mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh melalui saluran halus darah yang disebut pembuluh kapiler. Darah kemudian kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena cava superior dan vena cava inferior.

Darah juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.
 Komposisi

Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume sel darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah.

b. Korpuskula darah terdiri dari:
   Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%).

    Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita penyakit anemia.
1.  Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%)
2.  Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.
3.  Sel darah putih atau leukosit (0,2%)

    Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia.

c. Susunan Darah. serum darah atau plasma terdiri atas:

  •     Air: 91,0%
  •     Protein: 8,0% (Albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen)
  •     Mineral: 0.9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam dari kalsium, fosfor, magnesium dan zat besi, dll)
  •  Garam


d. Plasma darah pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung :-

  •     albumin
  •     bahan pembeku darah
  •     immunoglobin (antibodi)
  •     hormon
  •     berbagai jenis protein
  •     berbagai jenis garam

e.  Kesehatan

Luka bisa menyebabkan kehilangan darah yang parah. Trombosit menyebabkan darah membeku, menutup luka kecil, tetapi luka besar perlu dirawat dengan segera untuk mencegah terjadinya kekurangan darah. Kerusakan pada organ dalam bisa menyebabkan luka dalam yang parah atau hemorrhage.

Hemofilia merupakan kelainan genetik yang menyebabkan kegagalan fungsi dalam pembekuan darah seseorang. Akibatnya, luka kecil dapat membahayakan nyawa.

Leukemia merupakan kanker pada jaringan tubuh pembentuk sel darah putih. Penyakit ini terjadi akibat kesalahan pada pembelahan sel darah putih yang mengakibatkan jumlah sel darah putih meningkat dan kemudian memakan sel darah putih yang normal.

Pendarahan hebat, baik karena kecelakaan atau bukan (seperti pada operasi), dan juga penyakit darah seperti anemia dan thalassemia, yang memerlukan transfusi darah. Beberapa negara mempunyai bank darah untuk memenuhi permintaan untuk transfusi darah. Penerima darah perlu mempunyai jenis darah yang sama dengan penyumbang.

Darah juga merupakan salah satu "vektor" dalam penularan penyakit. Salah satu contoh penyakit yang dapat ditularkan melalui darah adalah AIDS. Darah yang mengandung virus HIV dari makhluk hidup yang HIV positif dapat menular pada makhluk hidup lain melalui sentuhan antara darah dengan darah, sperma, atau cairan tubuh makhluk hidup tersebut. Oleh karena penularan penyakit dapat terjadi melalui darah, objek yang mengandung darah dianggap sebagai biohazard atau ancaman biologis.

Dalam berbagai kepentingan diagnosis penyakit, tekanan darah memiliki peranan yang amat penting.
 Kepercayaan

Karena darah memiliki fungsi penting yang besar terhadap kehidupan, darah dikaitkan dengan beberapa kepercayaan.

    Umat Kristen percaya bahwa anggur upacara Ekaristi melambangkan darah Yesus Kristus yang ditumpahkan untuk menebus dosa manusia.
    Vampir adalah makhluk fiksi yang dipercayai terus hidup dengan menghisap darah orang yang masih hidup.
    Agama Islam melarang penganutnya memakan/meminum darah.
    Dalam teori Abad Pertengahan salah satu dari empat unsur badan, darah dikaitkan dengan unsur api dan riang dan pelahap yang dikenali sebagai mempunyai perwatakan "berdarah".



Leukosit

Leukosit merupakan nama lain untuk sel darah putih. Leukosit berfungsi mempertahankan tubuh dari serangan penyakit dengan cara memakan (fagositosis) penyakit tersebut. Itulah sebabnya leukosit disebut juga fagosit.
Leukosit mempunyai bentuk yang berbeda dengan eritrosit.
Bentuknya bervairasi dan mempunyai inti sel bulat ataupun cekung.
Gerakannya seperti Amoeba dan dapat menembus dinding kapiler.
Berdasarkan ada/tidaknya granula di dalam plasma, leukosit dibagi menjadi:
1. Leukosit bergranula (granulosit)
a. Neutrofil
b. Eosinofil
c. Basofil
2. Leukosit tidak bergranula (agranulosit)
a. Limfosit
b. Monosit

1. Neutrofil
Plasmanya bersifat netral, inti selnya berjumlah banyak dengan bentuk bermacam-macam. Neutrofil fagositosis terhadap eritrosit (sel darah merah), kuman, dan jaringan mati.
2. Eosinofil
Plasmanya bersifat asam. Itulah sebabnya eosinofil akan merah tua bila ditetesi eosin. Eosinofil juga bersifat fagosit dan jumlahnya akan meningkat jika tubuh terkena infeksi.
3. Basofil
Plasmanya bersifat basa. Itulah sebabnya plasma akan berwarna biru jika ditetesi larutan basa. Sel darah putih ini akan berjumlah banyak jika terkena infeksi. Basofil juga bersifat fagosit. Selain itu, basofil mengandung zat kimia anti penggumpalan, yaitu heparin.
4. Limfosit
Limfosit tidak dapat bergerak dan berinti satu. Ukurannya ada yang besar dan ada yang kecil. Limfosit berfungsi untuk membentuk antibodi.
5. Monosit
Monosit dapat bergerak seperti Amoeba dan mempunyai inti yang bulat/bulat panjang. Monosit diproduksi pada jaringan limfa dan bersifat fagosit.
Adakalanya benda asing ataupun mikroba yang tidak dikehendaki memasuki tubuh kita. Jika hal tersebut terjadi tubuh akan menganggap benda yang masuk itu sebagai benda asing atau antigen. Apa yang terjadi pada antigen tersebut?
Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan dianggap sebagai benda asing. Akibatnya tubuh melalui sel-sel darah putih (leukosit) memproduksi antibodi untuk menghancurkan antigen tersebut. Glikoprotein yang terdapat di dalam hati kita dapat merupakan antigen bagi orang lain jika glikoprotein tersebut disuntikkan kepada orang lain. Hal ini membuktikan bahwa suatu bahan dapat dianggap sebagai antigen untuk orang lain tetapi belum tentu sebagai antigen untuk kita. Hal tersebut juga berlaku untuk keadaan sebaliknya.
Leukosit yang berperan penting terhadap kekebalan tubuh ada 2 macam, yaitu fagosit dan limfosit.
Sel fagosit akan menghancurkan benda asing yang dengan cara menelannya (fagositosis).
Fagosit terdiri atas 2 macam sel, yaitu:
1. Neutrofil, terdapat di dalam darah.
2. Makrofag, dapat meninggalkan peredaran darah untuk masuk ke dalam jaringan atau rongga tubuh.
Limfosit terdiri atas:
1. T limfosit (T Sel), yang bergerak ke kelenjar timus (kelenjar limfa di dasar leher).
2. B limfosit (B sel).
Keduanya dihasilkan oleh sumsum tulang dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah, menghasilkan antibodi yang disesuaikan dengan antigen yang masuk ke dalam tubuh. Seringkali virus memasuki tubuh tidak melalui pembuluh darah tetapi melalui kulit dan selaput lendir agar terhindar dari leukosit. Namun sel-sel tubuh tersebut tidak berdiam diri. Sel-sel tubuh tersebut akan menghasilkan interferon suatu protein yang dapat memproduksi zat penghalang terbentuknya virus baru (replikasi).
Adanya kemampuan ini dapat mencegah terjadinya serangan virus.



leukositosi yaitu jumlah leukosit lebih banyak 11.000/mm
biasanya disebabkan oleh peningkatan salah satu jenis leukosit, contoh  neutrofilia
leukositosis dapat disebabkan oleh banyak penyakit infeksi, kadang leukositosi dijumpai tanpa ada hubungan dengan suatu penyakit yaitu leukositosis  fisiologis,,
terap steroid dapat meningkatkan jumah leukosit

Leukopenia (juga dikenal sebagai leukocytopenia, atau leukopenia) adalah penurunan jumlah sel darah putih (leukosit) ditemukan dalam darah, yang menempatkan individu pada peningkatan risiko infeksi.

Neutropenia adalah jenis sub-leukopenia yang mengacu pada penurunan jumlah granulosit neutrofil beredar, sel-sel darah putih yang paling berlimpah. Para leukopenia dan neutropenia istilah kadang-kadang dapat digunakan secara bergantian, sebagai jumlah neutrofil adalah indikator yang paling penting dari risiko infeksi.

Leukopenia dapat diidentifikasi dengan jumlah darah lengkap.



Pemeriksaan Laju Endapan Darah

 

judul    : Pemeriksaan Laju Endapan Darah

metode : Westergreen.

Tujuan Penetapan :Untuk menetapkan nilai koagulan dan untuk mengetahui kecepatan laju         endap darah.

 Prinsip        : Kecepatan endap darah atau laju endap darah adalah mengukur kecepatan                                sedimentasi sel eritrosit di dalam plasma. Satuannya mm/jam. Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan)  darah ini diukur dengan memasukkan darah kita ke dalam tabung khusus selama satu jam. Makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya.

Landasan teori      : Di dalam tubuh, suspensi sel-sel darah merah akan merata di seluruh plasma sebagai akibat pergerakan darah. Akan tetapi jika darah ditempatkan dalam tabung khusus yang sebelumnya diberi antikoagulan dan dibiarkan 1 jam, sel darah akan mengendap dibagian bawah tabung karena pengaruh gravitasi. Laju endap darah ( LED ) berfungsi untuk mengukur kecepatan pengendapan darah merah di dalam plasma ( nm/jam ). Tiga fase LED meliputi :
1. Fase pengendapan lambat I
    Beberapa menit setelah percobaan dimulai, sel darah merah dalam keadaan melayang, sulit mengendap         1-30 menit 0

2. Fase pengendapan cepat
    Terjadi setelah darah saling berikatan membentuk rauleaux permukaan relatife kecil , masa menjadi             lebih     berat ( 30-60 menit )
3. Fase pengendapan lambat II
   Terjadi setelah sel darah mengendap, menampak di dasar tabung ( 60-120 menit )

Dalam keadaan normal nilai LED jarang melebihi 10 nm per jam. LED ditentukan dengan mengukur tinggi cairan plasma yang kelihatan jernih berada di atas sel darah merah yang mengendap pada akhir 1 jam ( 60 menit ). Nilai LED meningkat pada keadaan seperti kehamilan ( 35 mm/jam ), menstruasi, TBC paru-paru ( 65 mm/jam ) dan pada keadaan infeksi terutama yang disertai dengan kerusakan jaringan.
Metode yang dianjurkan oleh ICSH ( International Comunitet for Standardization in Hematology ) adalah cara westergren.

Alat dan Bahan Pemeriksaan LED  :   Alat :

  •     Rak LED
  •     Tabung Westergreen
  •     Pipet Westergreen

Bahan :

  •     NaCl 0.85 % 4 : 1
  •     Natrium sitrat 3,2 %
  •     EDTA
  •     Darah 2 ml

Cara Kerja          :

    Cara kerja  : Metode Westergreen
  •  Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan sampel darah citrat 4 : 1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat 3,8 % ) atau darah EDTA yang diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4 : 1 (4 bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl 0.85%). Homogenisasi sampel sebelum diperiksa.
  •  Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung Westergreen sampai tanda/skala 0.
  •  Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus, jauhkan dari getaran maupun sinar matahari langsung.
  •   Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit.

Nilai normal :

    Metode Westergreen :

  •     Pria : 0 – 15 mm/jam
  •     Wanita : 0 – 20 mm/jam

Cara pengambilan darah vena



Prinsip :

Pembendungan pembuluh darah vena dilakukan agar pembuluh darah tampak jelas dan dengan mudah dapat ditusuk sehingga didapatkan sempel darah.

Alat – alat :

    1. Spuit disposable.
    2. Kapas alcohol 70 %.
    3. Kapas kering.
    4. Tabung sempel.
    5. Tourniquet.
    6. Mikropore.

Cara kerja :

  1.   Pasang tourniquet pada lengan atas ± 7 – 10 cm diatas bagian yang akan dilakukan tusukkan dan        pasien  diminta untuk mengepalkan tangannya.
  2.   Pilih vena yang besar, tidak mudah bergerak dan bersihkan dengan alkohol 70 %, biarkan kering dengan sendirinya.
  3.   Tusuk kulit dengan jarum pada kemiringan 30O, sampai jarum masuk ke dalam lumen vena.
  4.   Kendurkan ikatan tourniquet perlahan – lahan, tarik pengisap Spuit sehingga darah masuk kedalam spuit sebanyak yang diperlukan.
  5.   Letakkan kapas kering diatas jarum, kemudian cabut jarum spuit perlahan lahan dari vena.
  6.   Tekan kapas kering tersebut beberapa menit dan tutup dengan mikropore.
   7.  Pisahkan darah kedalam tabung sesuai kebutuhan pemeriksaan dengan cara melepaskan jarum dari spuit dan alirkan darah pada dinding tabung.



prosedur pemeriksaan HB metode sahli

 


Metode pemeriksaan Hemoglobin (HB) secara Sahli memang sudah ketinggalan jaman dan makin ditinggalkan orang, mengingat kelemahan yang dimiliki oleh metode ini.

     Prinsip :    Hemoglobin diubah menjadi hematin asam, kemudian warna yang terjadi dibandingkan dengan standar warna dalam alat sahli.

      Alat  :

      1.   Standar Sahli Hemometer.
      2.   Pipet HB 20 µl.
      3.  Pipet Tetes.
      4.  Batang pengaduk.
      5.   Tabung Pengencer haemometer

    Bahan  :

     1.  Hcl 0,1 N
     2.   Aquadest

    Cara Kerja :


1)      Masukan 5 tetes Hcl 0,1N ke dalam tabung pengencer Hemometer.
2)      Isaplah darah (kapiler, EDTA/Oxalat) dengan pipet HB sampai garis tanda 20µl. hapus darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet.
3)      Catatlah waktunya dan segeralah alirkan darah dari pipet kedalam dasar tabung pengencer yang berisi Hcl 0,1N tadi. Jangan sampai terjadi gelembung udara.
4)      Angkat pipet sedikit, lalu isap Hcl 0,1N yang jernih ke dalam pipet 2-3 kali untuk membersihkan darah yang masih tertinggal di pipet.
5)      Campurlah isi tabung itu supaya darah dan Hcl bersenyawa; warna campuran menjadi coklat tua.
6)      Tambahkan aquadest setetes demi setetes, aduk dengan batang pengaduk. Perbandingan warna campuran dengan warna standar harus dicapai dalam waktu 3-5 menit setelah saat darah dan Hcl dicampurkan. Pada saat menyamakan warna tabung diputar hingga garis bagi tidak terlihat.
7)      Baca kadar HB dalam gram/100 ml darah.




Pengertian HB (hemoglobin)

HB atau hemoglobin adalah zat warna pada darah merupakan suatu senyawa protein dengan fe yang dinamakan konjuget protein yang menyebabkan warna darah menjadi merah
Kegunaan dari HB Adalah untuk mengatur pertukaran oksien dengan karbon dioksida  didalam jaringan-jaringan tubuh mengambil oksigen dari paru-paru dan dibawa keseluruhan jaringan tubuh sebagai bahan bakar
Untuk penetapan hb kita harus membandingkan warna acid-hematin yang telah diubah dari hemoglobin dengan HCL yang berarna sawo matang, dengan metode sahli.
nilai HB normal :
  • laki-laki = 16-18 gr/%
  • perempuan = 12-14gr/%
kadar hb yang kurag dari nilai rujukan merupakan salah satu tanda dari anemia, dan bila kadar hemoglobin lebih tinggi dari nilai rujukan, maka keadaan ini disebut polisitemia

perubahan sikap tubuh dapat merubahkan kadar HB Yang bersifat sementr  pada sikap berdiri kadar hb lebih tinggi daripada berbaring. kadar HB tinggi pada pagi hari dn terendah pada sore hari.


    free counters PageRank Checker

    Pengikut

    About the Author

    My Photo
    Maura Maulina
    Hai, saya penulis Aceh Laboratorium!. Saya seorang Mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh, Indonesia dan juga seorang blogger paruh waktu dan menyukai blogging, desain blog, Artikel Kesehatan, & Laboratorium penuh gairah. Anda bisa melihat saya di FacebookFacebook

      ©Kumpulan Artikel Kesehatan | Berita Unik & Menarik - Todos os direitos reservados.

    Template by Dicas Blogger | Topo